Ironi adalah

Standard

ketika gue memeras otak dan keringat habis-habisan demi sebuah acara annual heboh bertajuk *** festival yang akan diadakan di tempat gue kerja, dan gue bahkan gak bisa datang di acaranya. Hebat kan?

Jadi ceritanya, gue adalah bagian dari divisi ke-6 yang khususnya mengurus bagian bernama ambience (divisi 6 membawahi sekian banyak bagian lainnya dan ambience adalah salah satu bagian yang dibawahi divisi 6). Ambience itu sendiri tak lain dan tak bukan adalah pemberi suasana ke acara ini. Kalau di istilah pesta, ini adalah seksi dekorasi. Masalahnya, yang harus diurus itu lahannya super gede, belon masih harus bentrok sama divisi-divisi lainnya seperti bazaar, atau panggung etc. Masalahnya lagi, ini bukan pesta. Masalah lainnya lagi, kami, panitia, buakn event organizer.

Intinya, pekerjaan ini melelahkan. Learning by doing adalah motto kami. Kita ahrus nyiapin konsep sesuai sama tema yang udah dikasih. Belon lagi pas udah jalan, tau-tau ada yang harus diganti karena the super big boss doesn’t agree with the idea. Tiap hari harus keliling ngeliatin ini itu. Kantor kami sementara pindah ke taman dan pekerjaan kami berurusan dengan orang fasilitas, maintenance, dan gardener. Belon lagi harus sebentar-sebentar pergi ke mana-mana untuk berburu material dan perkakas. Belon lagi perealisasian yang harus bongkar pasang bongkar. Capeklah pokoknya.

But somehow, it was fun. Apalagi pas udah deket hari-h kayak gini, rasanya kerjaannya udah keliatan gitu. Kebayang kan perasaannya kalo ngeliat hasil karya lo dipublish atau dipamerkan, rasanya sama kayak liat anak lo jalan untuk pertama kalinya. Excited! Kayak perasaan ‘we can make it!’ gitu.

Tapi sialnya, sial sesial-sialnya, gue gak bisa ‘mengalami’ acaranya. Acara *** festival itu puncaknya adalah pada hari kamis (gala konser) dan sabtu (acara puncak sisanya). Orang-orang paling heboh ya di dua hari itu. Keselnya, kamis gue kuliah dan sabtu gue kuliah juga dong. Gondok kan?

Hebatnya lagi, di ruangan gue itu yang jadi panitia adalah kaum minor dan yang bukan panitia adalah kaum mayor yang perbandingannya adalah 3:13. Sampai seminggu sebelon hari-h, kaum minor bahkan gak tau apa isi acara heboh di hari kamis, sedangkan kaum mayor bahkan udah memesan tiket untuk mereka masing-masing dan untuk keluarganya. Mereka tahu siapa penyanyi yang diundang dan kehebatannya (dan kaum minor bahkan baru tahu soal itu pas seminggu sebelum hari-h). Hebat kan? Sepertinya kaum minor sih gak akan datang ke acara di hari kamis itu, tapi sepertinya kaum mayor yang datang. Pekerja-penikmat, which one will you fall for?

Tapi dibilang jadi panitia itu rugi, enggak juga sih. Pekerja itu gak rugi sama sekali. Gue jadi belajar banyak banget soal bikin event semacam ini. Let’s just say if I want to make one big garden party, I’m very capable now. Belum lagi mendadak kenalan gue berkembang biak semenjak ngerjain acara ini. Intinya gue ajdi tau lah orang-orang penting yang kelak pasti bakalan membantu banget buat pelaksanaan pekerjaan harian gue nantinya.

Dan inti lainnya, ternyata gue emang lebih suka bekerja di belakang layar dibanding jadi pekerja yang heboh di hari-h. dan ternyata, gue kangen masa-masa muda waktu ngerjain event semacam ini menjadi kegiatan yang almost rutin. It’s good for my adrenalin.

Advertisements

2 responses »

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s