Before Christmas

Standard

Akhirnya, setelah ribuan kali emosi tertumpuk, Akong memutuskan keluar dari rumah. Alasannya tak lain dan tak bukan adalah pertengkarannya yang tak henti-hentinya sama papi, menantunya. Padahal dari ribuan pertengkaran, masih ada ribuan lainnya yang Akong tidak tahu, alias papi cuma ngomel-ngomel dibelakang, alias ngomel-ngomel ke kita, alias ngomel-ngomelin kita. Ketika semua orang heboh oleh keputusan Akong, gue hanya bisa berpikir yasudahlah. Sedih, jelas, Akong sudah tinggal dirumah 12-13 tahun. He’s part of my little family. Tapi buat nyegah keputusan Akong jelas kita semua gak punya kekuatan, ataupun hak.

Mami yang paling kasihan, karena dia terbentur antara suami dan orangtuanya. Pesan moralnya buat semua orang diluar sana, kalau memang anda merasa gak akan cocok dengan calon mertua anda, atau calon pasangan anda gak akan cocok dengan orang tua anda, mending antara ganti pasangan aja, atau tinggal agak jauh dari sumber pertengkaran itu. Saya sudah menyaksikan ribuan kali mami terjepit ditengah, susah karena orangtua dan suaminya sama-sama memiliki kepala sekeras berlian.

Untuk beberapa keadaan, memang saya tidak bisa menyalahkan papi soal kekesalannya dengan Akong. Maklum, Akong sudah tua, dia punya hak untuk beberapa eksentriksitas tinggi. Misalnya yang membuat papi paling kesal adalah urusan rumput di taman, ya rumput. Sepele bukan? Tapi sebelum men-judge papi, kalian perlu tahu bahwa papi sayang sekali sama tamannya, dan dibawah rezim Akong sebagai kepala taman, sudah tak terhitung berapa banyak tanamannya yang mati. Termasuk rumputnya yang tadinya hijau rimbun. Cukup dikatakan bahwa bercocok tanam bukan bidang yang dikuasai Akong. Tapi kalau di benak saya, sebenarnya Akong tidak salah lho, kalau tidak ada dia, saya yakin papi akan membiarkan rumput itu menumpuk jadi belukar yang tidak bisa dilewati. Dengan perginya akong mestinya berapa bulan lagi kita bisa lihat hal itu jadi kenyataan. Bukan salah Akong kalau dia bosan dan selalu memotong rumput-rumput itu. Tapi yah, apa yang tidak mengganggu buat kita bisa mengganggu orang lain bukan.

Sebenarnya menurut saya permasalahan Akong dan papi berdasar pada urusan ciong. Apa boleh buat, mereka memang tidak cocok. Dan Akong orangnya cuek, jadi sebagian besar dia tidak tahu kalau papi marah ke dia. Kena-lah kami, 3 anak papi, dan mami untuk mengalami semprotan omelan papi. Saya yakin semua sudah capek mengahdapi papi. Dia bisa jadi orang paling susah sedunia kalau urusan mengomel. Jangankan akong, mami ataupun kita saja sudah jutaan kali sakit hati hanya karena perkataan papi yang keras. But family always forgive, because we’re one.

Hanya saja sepertinya Akong lebih memahami kondisi daripada yang saya kira. Dia paham bahwa demi keberlangsungan hubungan lebih baik dia pindah. Kali ini definitely salah papi, bukan karena marah sama Akong, tapi karena melontarkan kalimat keras ke Akong. Yeah, papi harus belajar bahwa tidak semua orang bisa menerima kata-kata kasar seperti kami istri dan anaknya. Dan tidak semua orang boleh diberi kata-kata kasar.
Papi bukan orang kejam, jangan salah, dia hanya keras. Sebelum disakiti dia lebih memilih menyakiti. Dan biasanya dia selalu menyesal sesudahnya, tapi tidak pernah belajar juga dari penyesalan. He keeps doing it again and again. Eits jangan salah, dia bukan tipe KDRT kok, dia hanya suka mengomel saja. Dan keberadaan Akong membuat dia mengomel puluhan kali lebih banyak. Jadi pesan moral berikutnya, jangan pernah berkata-kata ketika anda sedang emosi. Believe me, i know the feeling, karena saya cenderung seperti papi. Saya suka mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan kalau untuk melindungi diri atau untuk menyakiti. Tapi saya selalu menyesal setelahnya. Dan lama-kelamaan saya belajar untuk diam saja selama emosi. Lebih aman. Sayang papi tidak bisa menguasai hal itu sampai sekarang.

Pada intinya, kepindahan akong mungkin akan menimbulkan banyak keributan lain. Buat saya pribadi, berhubung dia pindah ke tempat anaknya yang lain, harusnya tidak jadi masalah, karena toh semua anaknya dia, kenapa harus bertarung siapa yang lebih penting untuk urusan tempat tinggal. Intinya yang penting Akong kerasan bukan.

Hanya mami saya yang merasa merana berhari-hari memikirkan keputusan Akong. Satu dia memusingkan reaksi papi yang tentunya ngamuk atas keputusan Akong. Papi marah karena Akong begitu mudah tersinggung, well yeah, Dad, not everyone can accept your hurting words. Sebenernya saya yakin ngamuknya papi tak lain dan tak bukan adalah karena dia merasa menyesal. Tapi aneh ya, kalau dia memang begitu marahnya dengan Akong, bukannya harusnya kepindahan Akong menyelesaikan masalah ya? People couldn’t have everything they want, we need to choose, and your words already choosen the way for you. Mau apa lagi sih?

Kedua mami takut keluarganya jadi bertengkar. Atau menjelek-jelekkan keluarga kita. Yah kalau itu sih apa boleh buat, memang Akong keluar dengan kondisi seperti ini. kita gak bisa ngapa-ngapain dong kalau mau dicap jelek. Buat mengerti, orang perlu mengalami, jadi jangan paksakan pendapat orang lain dengan pendapat kita sendiri. Dan sekali lagi jangan salah, saya sedih sekali dengan kepergian Akong. If i could just reply the event.. Tapi kalau dibanding omelan papi tiap hari constantly, mungkin ini memang jalannya.

Yah pesan moral lainnya adalah hidup tidak akan berjalan damai tanpa kerikil disana sini. Kadang malahan batu besar menghalangi. Begitulah kehebohan yang terjadi kurang dari seminggu sebelum natal. Saat ini saya tidak bisa mengatakan bahwa ini adalah sebuah berkat, toh suasana perang dingin dirumah sangat tidak enak sekali, terutama ketika papi keras kepala tidak mau mengalah dan kita semua harus berusaha menaikkan mood papi yang sangat melelahkan. Dibanding berkat ini lebih terasa seperti bencana.

Kalau ditanya apa makna toleransi, ini adalah toleransi buat saya. Ada gunanya juga pelajaran pancasila jaman sd-smp-sma itu. Toleransi adalah mengalah demi kedamaian suasana hati.

Permohonan saya buat akhir taun ini dan awal tahun depan, mudah. Semoga semua masalah dapat selesai tanpa keluar begitu banyak emosi dan air mata, dan tentunya sakit hati. Semoga semua dapat selesai tanpa pertengkaran (walaupun saat ini sepertinya itu mustahil, but we could always believe miracle does happen, right).

I don’t even dare to wish a merry Christmas to myself, it’s already merry, in its own way. But I sincerely hope that your Christmas will be more cheerful than mine.

Advertisements

One response »

  1. vanya… akhirnya nulis juga.. :) hope that writing could -somehow- relieve your emotions, and hopefully you already felt better after put your thoughts into this writing. *hugs. Be strong dear. Im still here if you need me *at least i am still at the office, since no holiday for me hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s