Liburan Makassar – Hari 2

Standard

Hari kedua. Paginya kami bangun pagi-pagi buat mengejar acara Akad Nikah yang jadwalnya jam setengah 9 pagi. Bye bye buffet hotel yang bergelimangan dan menggiurkan yang memanggil-manggil untuk dimakan. FYI, kenapa ya hotel itu gak ada salonnya? Kan jadi susah kalau kondangan pagi-pagi di daerah asing.

Ceritanya kami berangkat kerumah mempelai pria dulu, pagi-pagi banget karena takut ditinggal rombongan. Lagian siapa juga yang tau jalan kerumah mempelai cewek. Disana, kami duduk-duduk sambil minum teh/kopi dan makan makanan suguhan sambil melihat kehebohan persiapan. Arena acara masih sama warna-warninya kayak semalem. Tapi tamu-tamunya lebih berwarna-warni. Kayaknya warna yang dominan itu warna merah, emas, kuning, hijau, dan warna-warna cerah lainnya. Sebagian kelaurga memakai semacam pakaian adat, yang sepertinya sudah sedikit dimodernisasi bewarna orange. Keluarga inti memakai pakaian putih dengan aksen emas, untuk perempuannya. Ayah mempelai pria memakai atasan seperti jas yang agak ditradisionalkan dan bawahan tradisional. Mempelai pria mengenakan pakaian putih hijau, dengan bawahan seperti rok panjang. Setelah semua mulut sudah diberi makan, semua perempuan sudah didandani, mempelai pria dirapikan, dan beberapa perempuan keluar membawa kotak mahar dan kawan-kawannya, kami memutuskan untuk stand by di mobil yang dipinjamkan oleh si mempelai pria.

Yang diparkir di tempat yang jauh sekali oleh karyawan si mempelai.

Ketika kami sudah duduk di dalam mobil itu, baru kami sadar kalau bensinnya sudah ada di garis E. Uh-oh. Teman si pacar yang duduk di bangku kemudi sempat panik. Sepertinya mencoba peruntungan bukan ide yang bagus, karena kami tidak tahu dimana rumah mempelai perempuan. Kalau masih 50 km lagi gimana?? Akhirnya kami nekad ngebut mencari pom bensin terdekat sambil berdoa supaya rombongan, dengan puluhan ibu-ibu yang membawa keperluan akad nikah itu, berjalan lambat-lambat. Dan untungnya terkabul. Ketika kami sampai di sekitar lokasi menunggu, rombongan masih sibuk membagi penumpang ke puluhan mobil dan beberapa bus. Oke, besar sekali rombongannya???

Baru kali ini saya ngeliat nikahan yang rombongannya sebanyak ini. Yah, saya gak pernah ikut acara akad nikahan sih, tapi seawam-awamnya saya, saya tau kalau ini ukurannya lumayan heboh. Bus aja ada 2 atau 3. Mobil sih jangan dikata, puluhan. Mempelai pria naik mobil kesayangannya, volkswagon yang beneran wagon kuno berwarna orange.

Iring-iringan yang pernah saya ikutin itu cuma konvoi mobil jenasah, dan konvoinya rapih, bersih, satu jalur panjang.

Makanya saya heran waktu liat iring-iringan mantenan ini, kok gak ada yang mau kalah ya. Semua ngotot mau didepan, walhasil ini konvoi pertama yang saya ikutin yang mobilnya tersebar sampai semua jalur. Tiap kali kami terdesak keluar jalur, dan mencoba kembali ke jalur, semua anggota konvoi berubah menjadi galak dan sibuk mengklakson dan mengedipkan lampu jauhnya. Astaga. Tapi ketika sampai di lokasi, semua orang itu toh akhirnya sibuk nyari parkir, sedangkan kami menemukan tempat ideal untuk parkir tanpa perlu berebutan dengan mereka semua. Ha.

Nah acara Akad Nikah, yang juga baru pertama kali saya alamin, ternyata seru. Di rumah mempelai cewek juga depannya dipasang tenda besar, kali ini hijau. Rumahnya ada di gang kecil (sama kayak rumah mempelai pria), kayaknya semua jalan di perumahan Makassar gangnya kecil. Beginilah yang namanya toleransi kehidupan bertetangga, saya yakin kalau di kompleks saya misalnya ada yang kawin dan nutupin jalan keluar, pasti bakal diamuk masa. Disini, semua terlihat senang.

Rombongan disambut sama tari-tarian yang dibawakan oleh gadis-gadis muda. Semua sepupu dan saudara perempuan dari mempelai pria berjejer untuk masuk sebelum mempelai sambil membawa tumpukan mahar. Salah satu isi mahar itu ternyata peralatan perawatan tubuh, entah arden atau estee (saya lupa). Buat urusan itu, gak jauh beda sama budaya kawinan modern yang memang ada peralatan perawatan tubuh untuk mempelai perempuan. Semua keluarga inti dan kerabat dekat masuk ke dalam rumah, sedangkan sisanya duduk di tenda besar didepan.

Selama Akad berlangsung, mempelai cewek menunggu dikamarnya. Mempelai pria berurusan dengan penghulu, dan wali mempelai cewek, yang dalam kasus ini adalah bapaknya. Kami yang duduk di bawah tenda menonton dan mendengar semua ritual acara dari TV flat screen besar dan speaker yang dipasang disana. Di acara akad ini baru berasa kesakralan janji pernikahan. Di titik itu, seluruh nasib mempelai cewek langsung pindah ke tangan mempelai pria. Pria wajib menjaga, mendidik, dan mencukupi kehidupan mempelai cewek selamanya. Bahkan adegan ranjang juga dibahas. Seperti kata penghulu, ‘apa yang haram menjadi halal.’ Disini juga dinyatakan bahwa jika mempelai pria tidak memenuhi kebutuhan mempelai cewek, baik jasmani maupun rohani, maka si mempelai cewek berhak menalak mempelai pria. Urusan jasmani bukan cuma makan loh, termasuk urusan ehem juga.

Vulgar? Enggak juga sih. Memang faktanya harusnya menikah ya isinya tentang itu. Apa tugas pria, apa tugas wanita. Justru harusnya menikah itu berat makanya itu bukan keputusan main-main. Aneh rasanya kalau ada pria yang mau menikah lebih dari satu kali, soalnya kelihatannya menanggung kehidupan satu orang istri aja sudah berat kok, apalagi lebih. Dan lagi-lagi menanggung itu bukan cuma urusan makan. Dan juga bukan cuma urusan ehem.

Setelah selesai ritual ini itu, setelah mempelai pria mendatangi mempelai perempuan (lengkap dengan ritual buka pintu), dan setelah mereka sungkem ke orang tua, tiba acara makan-makan dan foto-foto. Yang artinya waktunya kami pergi, karena rasanya acara ini kok udah jadi acara keluarga lagi ya. FYI, dari Jakarta saya membawa pakaian pesta normal, dress selutut tanpa lengan, yang kalau di Jakarta itu sudah jauh lebih sopan dari baju kebanyakan. Disana, baju itu jadi pakaian paling vulgar, secara semuanya cantik dan rapih menggunakan pakaian adat dari leher sampai ujung kaki, dan menutupi tangan. Akibatnya satu saya jelas gak terlalu kepanasan disana, dua saya merasa risih dong ya ada ditengah-tengah mereka.

Anyway, selesai Akad, dan ganti baju di hotel tentunya, sang pacar memutuskan berkumpul bersama teman-temannya untuk makan siang, karena kami tadi kabur dari acara tanpa makan. Restroan yang kami jajah adalah restoran Dinar. Makanannya lagi-lagi seafood dong. Haduh puas deh pokoknya makan seafood. Buat yang belon pernah ke Makassar dan bakal pergi, cobain deh ikan yang namanya kudu-kudu yang digoreng tepung. Enak banget loh, dagingnya super halus. Ikannya sih kalau belon dipotong wujudnya agak-agak scary gitu, tapi asli enak.

Habis makan, rombongan misah, karena saya dan pacar mau nyobain Trans Studio, dan teman-temannya gak mau karena masih harus siap-siap buat datang ke pesta sore itu, yang diadain sama keluarga mempelai cewek di Sahid, lagi-lagi acara ini gak ada di undangan mempelai pria. Si pacar keukeuh mau datang ke acara mempelai pria aja yang diadain di hotel Clarion pas senin malam. Walaupun akhirnya pas kami sampai di trans ternyata ada beberapa temannya yang akhirnya nyusul kesana.

Trans Studio jelas bukan taman bermain selera saya. Saya prefer Dufan deh kalau buat kelas di Indonesia. Isi mainannya emang banyak, beberapa mirip Universal Studio walau versi simplenya, dan genrenya kebanyakan anak-anak. Yah lumayan lah buat foto-foto, dan ngabisin duit 185 ribu perak. Terakhir ke universal, kami ngabisin waktu dari siang sampe sore. Di sini, kami cuma ngabisin waktu sore sampai sore. Padahal kalau dipikir-pikir, kan mahal tiketnya.

Malemnya kami ngabisin waktu jalan-jalan di sepanjang Somba Opu, berkelana sampai Fort Rotterdam yang tiket masuknya cuma berwujud sumbangan sukarela. Fort Rotterdam itu kayaknya Kota Tua di Jakarta deh. Banyak banget orang foto pakai kamera SLR, dan bahkan pose modelnya bahkan mirip, bergelayutan di ambang jendela dengan baju seksi. Kami cepat-cepat kabur sebelum panggung gede yang ditaro didepan Fort Rotterdam mulai digunakan untuk konser XL. Bisa kejebak disana kalau udah mulai.
Di jalan itu juga kami mencoba masakan khas Sulawesi, konro. Ternyata itu kuah kayak soto ya. Habis itu kami mampir di toko oleh-oleh dan menemukan kalau oleh-oleh khas Makassar itu antara sirup markisa atau minyak tawon. Yang khas di sana itu minyak tawon yang botol kaca dan tutupnya warna merah. Harganya lebih mahal dari yang warna putih. Gosipnya sih manjur banget, asal tahan baunya lho. Setelahnya kami pulang istirahat, lagi-lagi diatas jam 9 waktu Jakarta, jam 10 waktu Makassar. Selesai hari kedua. (to be continue)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s